Teman saya sedari kecil tidak menikmati hidup yang berlebih, cenderung terbatas karena dilarang orangtuanya untuk membeli barang-barang yang diinginkan alias berbelanja. Namun dia juga menyaksikan orangtuanya melakukan hal yang dilarang: berbelanja. Tanpa sadar belanja dengan kartu kredit menjadi kebiasaan yang dicontohkan oleh oran tuanya.

Ketika suatu saat dia berkesempatan menerima beasiswa belajar di luar negeri dalam nominal yang besar, hasrat belanja yang selama ini terpendam mendadak tersalurkan. Dia kemudian punya kebiasaan baru dan gaya hidup yang baru. Yang dulu tidak dapat terbeli sekarang bisa! Dengan uang beasiswa.

Keadaan menjadi suram ketika harus kembali ke Indonesia selesai studi. Beasiswa sudah berakhir namun masih membawa kebiasaan berbelanja seperti saat masih menerima dana yang besar. Kebiasaan ini berujung pada utang kredit pada bank berupa kartu kredit dan kredit tanpa agunan, yang kini kian membesar tanpa terlihat ujung penyelesaiannya.

Apesnya, teman ini kadung pindah kerja dari tempat yang dirasanya tidak kondusif ke pekerjaan lain yang pendapatannya lebih kecil. Bekerja sebagai karyawan tidak tetap, gaji harian, bekerja dobel sebagai penerjemah lepas, berpeluh lelah tiap hari namun hanya dapat membayar tagihan minimal. Tidak disadari, sisa utang dan bunga kemudian berbunga dan semakin besar. Kini dia pesimis usaha yang dilakukannya akan dapat mengeluarkannya dari kondisi utang yang melilit.

Kamu mungkin akan membaca ini sebagai 'dia'. Namun kalau kamu tidak hati-hati, 'dia' akan mudah berganti 'saya'. Beasiswa bersifat sementara, bukan pemasukan sejati, karena umumnya tidak didapatkan sebagai imbalan kerja. Kamu mungkin berada dalam ilusi 'saya punya penghasilan'. Sebenarnya tidak. Dan semakin besar jumlah beasiswa yang diterima, semakin besar godaan dan ilusi kepemilikan uang tadi.

Mungkin kamu bukan penerima beasiswa yang menjalani studi di luar negeri, bisa juga berupa uang saku bulanan dari orangtua. Tapi ada hal yang sama: perubahan gaya hidup. Ingat, dengan berubahnya gaya hidup, berubah pula jumlah uang yang harus kamu keluarkan. Semakin nyaman dan semakin tinggi gaya hidup, semakin besar potensi utangmu. Semakin besar pula potensi syok ketika beasiswa/penghasilan sementara itu berhenti/hilang.

Photo Credit: SPEED System Orthodontics

Bagaimana supaya ini tidak terjadi?

  1. Jangan serakah. Kamu boleh pegang kartu kredit, tapi beli yang kamu butuh, bukan yang kamu ingin.
  2. Lunasi tiap penagihan. Iya ngga enak, karena langsung terasa: belanja banyak, bayar banyak. Supaya kapok.
  3. Gunting kartu kreditmu. Yang harus bayar tahunan, bonus atau keuntungan minimal, lunasi lalu tutup saja. Sisakan satu, jika kamu tidak yakin sanggup mengendalikan keinginan belanjamu lagi. Setidaknya deritamu nanti terbatas di satu kartu saja.
  4. Get some help. Kalau kamu hanya sanggup bayar tagihan minimal, itu sudah peringatan keras bahwa kamu butuh bantuan berupa interupsi.
  5. Miliki teman yang baik. Selain mendukung kamu, teman yang baik akan menampar kamu sebelum kamu terjerumus ke masalah finansial. Kalau kalian berdua saling menjerumuskan, mungkin saatnya cari teman baru. Lucu-lucuan itu seru, tapi urusan duit itu nggak lucu. Suer!

Nah, itu tadi cerita yang bisa saya bagikan agar tidak terlilit utang setelah mendapat tunjangan beasiswa. Kamu punya pengalaman yang sama? Bagikan di kolom komentar, ya!

BACA JUGA


Ini Dia 5 Nasihat Keuangan Agar Relationship Kamu Adem Ayem Awet Rajet

Ini Dia 5 Nasihat Keuangan Agar Relationship Kamu Adem Ayem Awet Rajet

Konon lebih susah bicara soal uang daripada bicara soal cinta dengan si dia. Bener gak sih? Yang pasti kamu pasti butuh nasihat keuangan ...

Read more..

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Studi dengan Tunjangan Beasiswa, Pulangnya Terlilit Utang. Kok Bisa?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !