Beberapa waktu yang lalu, ayah saya berkata, 'mbak, nanti kalau kamu nikah, tamu-tamu engga usah buwuh (memberikan sejumlah uang, biasanya dalam amplop). Saudara-saudara datang begitu saja, ayah ikhlas kok membiayai pernikahanmu.' Eh, saya langsung sewot dong, 'lah, yang butuh uang buwuh-nya kan aku. Ayah sih engga apa-apa kalau engga mau, tapi kan lumayan buat aku dan suami.' Hehehehehe #ogahrugi #tapibukanmataduitan

Tradisi memberikan sejumlah uang pada pesta pernikahan memang menjadi salah satu hal yang telah berakar di kehidupan kita sebagai orang Indonesia. Konon, semakin megah pestanya – yang artinya semakin kaya pula keluarga pengantin dan para tamu – semakin banyak pula isi kotak uangnya. Ada yang pernah bilang kalau uang itu biasanya diambil oleh pengantin sebagai tabungan; ada juga yang dikembalikan kepada orang tua, karena untuk 'menambal' pengeluaran pesta pernikahan.

Untuk tujuan kedua ini, mirisnya, kebanyakan orang Indonesia sangat suka merancang pesta pernikahan besar-besaran tanpa memikirkan anggaran yang sebenarnya bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Bahkan, banyak juga pasangan yang memulai hidup baru dengan rentetan hutang akibat biaya pesta yang membengkak!

Makanya, kalau kamu sedang merencanakan pernikahan, coba cek lagi daftar pengeluaran dan anggaranmu. Siapa tahu kamu bisa menghemat beberapa pos dibawah ini:


1. Lamaran, Pesta Pertunangan, atau Kunjungan Balik

Akhir-akhir ini, banyak orang merancang pesta pertunangannya besar-besaran, bahkan tidak dapat dibedakan lagi dengan pesta pernikahannya. Kalau kamu tidak mempersiapkan anggarannya, bisa-bisa kamu hanya mendapatkan sisa-sisa uang untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, atau bahkan harus berhutang! Untuk acara seperti lamaran atau kunjungan balik, terkadang semua anggota keluarga besar ingin ikut; yang membuat kamu jadi harus membiayai transportasi dan konsumsi mereka. Bukannya pelit, tapi kamu juga harus menimbang kemampuanmu. So, diskusikan hal ini dengan ayah dan ibu, supaya mereka membantu menjelaskan kepada keluarga besar bahwa mereka akan diundang saat pesta pernikahan.


2. Cincin Kawin

Suatu hari, saya menghadiri pernikahan teman saya dan komentar, 'eh cincin kamu kok beda sama yang kemarin?' Eh saya baru tahu kalau cincin tunangan dan cincin kawin kadang dibedakan. Padahal, rasanya sih, saya juga pingin cincin yang keren, dan cincin yang keren itu tidak murah harganya. Kasihan dong, kalau pasangan juga harus membeli cincin tunangan yang harganya kurang-lebih sama dengan cincin kawin. Mending cincinnya satu aja deh, kalau ada kelebihan uang, dijadikan investasi dalam bentuk emas saja, ya Mas?


3. Perawatan Pra-Pernikahan

Yang namanya mau jadi pengantin, harus tampil maksimal dong. Makanya, kamu bela-belain meluangkan seharian penuh untuk spa di salon; kalau perlu, mama dan adik ikut juga. Tanpa sadar, uang yang kamu bayarkan sebenarnya bisa digunakan untuk membeli kulkas di rumah barumu! Why don't you try spa at home? Beli lulur terbaik, panggil tukang pijat langganan, dan voila, kamu bisa menghemat lebih dari separuh pengeluaranmu untuk spa di salon. Hemat, praktis, kamu pun bisa lanjut istirahat seharian (yang tidak mungkin kamu lakukan kalau di salon, kamu kan harus pulang).


4. Undangan

Pernikahan sepupu saya awal bulan ini menyisakan banyak sekali undangan, dengar-dengar sih ada sisa 50-an lembar di rumah. Undangan berbentuk fisik saat ini sangat bervariasi, dari yang hanya kertas biasa, sampai bentuk yang tak terbayangkan lagi saking kreatifnya. Ambil contoh harga undangan sepupu saya Rp. 5 ribu per buah, dikali 50 buah, lumayan tuh Rp. 250 ribu buat nambah ongkos bolak-balik ngurus segala macam. Belum lagi kalau kita harus mengirim undangan itu ke luar kota, atau luar pulau. Pengeluaran jadi semakin banyak – yang tadinya kita hanya menghitung Rp. 5 ribu per undangan, ternyata ongkos kirimnya bisa sama atau bahkan lebih dari harga undangan. Sayangnya, kebanyakan undangan pernikahan berakhir di tempat sampah. Sebagus apapun undangannya, orang tidak akan melihatnya dua kali. Saya pribadi sih, sangat bisa menerima diundang lewat Facebook atau Whatsapp. Apalagi dengan diundang via Facebook, saya bisa melihat apakah gebetan juga meng-klik 'Going'. Jadi punya alasan untuk pergi bareng kan..

http://bytanja.com/


5. Seragam Pendamping

Banyak teman, banyak rezeki. Tapi kalau terlalu banyak teman, kita jadi bingung siapa saja yang harus kita beri kain untuk seragam. Pertimbangkan baik-baik berapa orang yang perlu kita beri kain seragam, karena harga kain kualitas terbaik tidak murah lho. Mereka juga belum tentu senang jika harus menjahitkan di penjahit (yang harus bagus, dan biasanya, cukup mahal). Kalau anggaran kamu tidak mencukupi untuk membeli kain seragam untuk pendampingmu, coba belikan scarf atau bros sebagai penanda bahwa mereka pendampingmu.


6. Mobil Pengantin

Menurut saya, mobil pengantin yang dihiasi bunga-bunga, apalagi kalau mobilnya menyewa, mobil mewah pula – adalah pemborosan yang teramat sangat (siap-siap didemo persewaan mobil pengantin, nih). Daripada mengeluarkan uang hanya untuk beberapa jam, mending uangnya dipakai untuk menambah tabungan uang muka beli mobil sendiri. Jika ingin menggunakan mobil pengantin, mintalah temanmu yang kreatif dan berjiwa seni untuk menghiaskan mobilmu. Ingat, yang penting adalah kamu bisa tetap tiba di gedung pernikahan tanpa kurang suatu apapun.


7. Upacara Adat

Yang namanya tradisi itu susah susah gampang untuk ditinggalkan begitu saja, apalagi kalau orang tuamu cukup tegas dan ingin melestarikan adat. Beberapa suku di Indonesia memang punya upacara pernikahan yang sangat indah dan bikin kita berdecak kagum, tapi kalau kamu mau melakukannya ingat bahwa akan ada kompensasi biaya tertentu. Upacara adat menuntut kamu menjalankannya dengan benar, sehingga kamu harus 'mempekerjakan' seseorang yang akan membimbingmu. Belum lagi waktu dan tenaga yang harus kamu berikan. Kalau kamu tidak merasa sanggup, minta dengan baik-baik agar prosesi pernikahan disederhanakan. Yang penting halal dan sah kan.


8. Make Up Artist

Umumnya, salon pernikahan sudah mematok harga per paket, misalnya pengantin, ibu pengantin, nenek pengantin, beberapa saudara inti, pengiring pengantin, dan sebagainya. Tapi, kamu perlu berhati-hati kalau tiba-tiba ada saudara yang muncul terus minta di-makeup-in juga. Udah gitu, tidak hanya satu atau dua orang, tapi sepuluh! Kalau per orang-nya saja kamu di-charge Rp. 250 ribu (dan ini sudah tergolong murah untuk acara pernikahan), bisa-bisa kamu 'rugi' Rp. 2,5 juta. Jadi, bicarakan hal ini dengan ibu – biasanya beliau paling tahu siapa saja yang perlu di-makeup-in, dan siapa yang bukan tanggungan kamu.


9. Souvenir

Pengeluaran satu ini, sama seperti undangan, penting tidak penting. Meski banyak orang yang mengoleksi souvenir pernikahan, tapi lebih banyak yang menelantarkannya dan melupakannya. Mencari souvenir yang bisa digunakan (bukan hanya sebagai pajangan) juga susah-susah gampang. Kabar baiknya, kalau kamu kreatif dan suka membuat kerajinan tangan (serta berkomitmen meluangkan waktu), kamu bisa membuat souvenir pernikahanmu sendiri. Hemat uang, dan kamu bisa membanggakan hasil karyamu.


Teman-teman saya yang sudah menikah (dan mau tidak mau saya mengakuinya juga), di Indonesia ini, biaya pesta pernikahan bisa sangat diluar rencana karena adanya social cost.

Yes, it's the things that we think we don't need; but then, we think we need it because people will see and comment.

Kalaupun kamu memang punya uang yang berlebih untuk membuat sebuah pesta pernikahan yang luar biasa, tetap ada baiknya untuk kamu memangkas beberapa pos pengeluaran, agar bisa menabung, atau menyisihkannya untuk orang-orang kurang mampu.

After all, it's not the wedding that really matters, but the marriage itself.

Rencanakan pesta pernikahanmu sebaik (dan se-efisien) mungkin, karena perjalanan selanjutnya akan lebih panjang.

Semoga lancar sampai hari H!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bebaskan Pernikahanmu dari Hutang! Inilah 9 Hal yang Bisa Dihemat dari Pengeluaran untuk Pesta Pernikahan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !