Berita tentang tutupnya ritel Lotus menambah deretan daftar ritel yang sedang demam menyusul Ramayana, Matahari, dan ritel lainnya. Kita bisa melihat kasus peritel, seperti Hypermart yang sibuk meloby pemasoknya untuk memberikan kelonggaran bayar, Ramayana yang menutup delapan gerainya, hingga yang paling parah, yaitu 7-Eleven menyetop seluruh operasionalnya.

Ramayana yang beberapa waktu lalu punya hashtag #KerenKerontang nampaknya menggambarkan ritel sekarang yang tak lagi keren seperti dulu. Fenomena lesunya bisnis industri ritel bukan hanya di Indonesia, di negara lain juga banyak mengalami hal yang sama seperti Walmart. Apa yang menyebabkan ritel tidak lagi diminati oleh 'kids zaman now'? Ini dia 5 faktor kenapa ritel mengalami penurunan daya beli konsumen?

1. Trend Bisnis Online

photo credit: www.mmbiztoday.com

Menjamurnya bisnis online memudahkan konsumen untuk membeli barang. Tak hanya barang-barang branded yang ditawarkan, produk lokal pun banyak yang beredar di online shop. Belum lagi dengan penawaran cicilan 0% dan free ongkir yang membuat konsumen makin dimanjakan dan bisnis online ini meningkatkan pendapatan bisnis ekspedisi.

Mengapa bisnis online berani memberikan harga lebih miring dibandingkan produk-produk yang sama? Salah satunya adalah dalam melakukan bisnis online, para pelaku bisnis ini tidak perlu menyewa tempat ataupun lapak. Dengan kecanggihan teknologi sekarang, pelaku bisnis tinggal foto produk yang ingin dijual lalu di-upload dan berikan deskripsi yang baik pada produk tersebut. Selain itu, bisnis online dapat siaga 24 jam dan menjangkau semua wilayah baik dalam negeri ataupun luar negeri.

2. Trend Travelling

Beberapa waktu lalu Sri Mulyani menuding 'kids zaman now' adalah biang kerok dari menurunnya daya beli konsumen yang ikut mempengaruhi bisnis ritel. Data menunjukkan saat ini trend travelling keliling dunia ataupun Indonesia menjadi pengeluaran terbesar millenial.

Tempat-tempat wisata yang menawarkan aneka promo dan Instragamable membuat milenial merelakan segalanya untuk bisa mencapai destinasi impiannya.

Belum lagi kalau ada live concert artis favorit di negara lain. Tentu saja fans artis tersebut akan rela membocorkan tabungan mereka untuk melihat artis idolanya itu. Hal ini membuat anggaran untuk travelling membengkak dibandingkan anggaran untuk beli produk-produk retail.

3. Trend Minimalis

photo credit: i.kinja-img.com

Maraknya trend minimalis di Jepang dan negara-negara lainnya, ikut mempengaruhi gaya hidup milenial Indonesia. Trend minimalis yang mengajarkan untuk tidak menyimpan barang terlalu banyak menyumbang daya beli masyarakat menurun.

Trend minimalis ini membuat bisnis transportasi online menjadi favorit milenial yang sering berpergian ke kantor ata pun jalan-jalan di akhir pekan. Mereka tak perlu beli mobil ataupun motor yang banyak memakan tempat. Belum lagi dengan biaya perawatan dan biaya surat-surat.

4. Trend Kemajuan Teknologi

photo credit: tempo.co

Kemajuan teknologi mempengaruhi 'kids zaman now' untuk eksis di media sosial. Pengeluaran untuk membeli kuota banyak merogoh kocek mereka.

Kita bisa lihat apapun bisa dilakukan melalui smartphone. Panggil tukang pijat, beli pulsa, transfer uang, booking ticket, update status, upload foto-foto liburan di Maldives lewat Instagram atau Instagram Stories, bikin serial vlog, dan masih banyak lagi.

Siapa yang engga bakal teriak ketika tiba-tiba kuota kamu 0 besar?

5. Trend Gaya Hidup

'Kids zaman now' sangat peduli dengan gaya hidup sehat. Daftar menjadi anggota klub fitness, order catering diet sehat, dan ikut lomba marathon menjadi trend gaya hidup yang tak mengeluarkan uang sedikit.

Sebaliknya, ada juga yang tidak peduli dengan segala hal yang berbau sehat dan diet. Mereka hanya peduli kalau mereka sudah eksis di tempat-tempat kuliner yang ngehits dan berharap dapat likes ketika diunggah di Instagram, meskipun setelah itu jumlah gula dalam tubuh naik.

Gaya hidup pun menuntut 'kids zaman now' bisa memiliki kulit ataupun rambut ala artis Korea. Tak heran uang mereka dianggarkan untuk biaya perawatan dan pemeliharaan kulit dan rambut. Plus ada additional budget untuk makeup yang membuat mereka tampil lebih gaya.

BACA JUGA


Gaji 3 Jutaan, Bagaimana Caranya Agar Cepat Kaya dan Tidak Merepotkan Orang Tua?

Gaji 3 Jutaan, Bagaimana Caranya Agar Cepat Kaya dan Tidak Merepotkan Orang Tua?

Meski masih bergaji minim, bukan alasan bagi kamu untuk tidak cepat kaya dan masih menjadi beban orang tua. Bangkit yuk, sekarang

Read more..

Saya kemudian menjadi tidak percaya kalau daya beli konsumen sedang lesu, mungkin lebih tepatnya roda ekonomi sedang berputar. Kamu percaya?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa Kids Zaman Now Dituding Jadi Penyebab Industri Ritel Lesu? Ini Dia 5 Faktor yang Membuat Industri Ritel Lesu!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !