Milenial saat ini memang jumlahnya banyak sekali dan menghiasi berbagai media. Mereka adalah anak-anak yang sangat dekat dengan teknologi, kritis, kreatif, dan inovatif. Belakangan milenial juga dituding sebagai penyebab daya beli konsumen merosot. Lalu apa saja bisnis yang mengalami penurunan revenue ataupun stagnan. Berikut 8 bisnis yang lesu gara-gara milenial:

1. Bisnis Transportasi Konvensional

Seberapa sering kita melihat konflik antara bisnis transportasi konvensional dan transportasi online menghiasi media cetak ataupun elektronik? Atau pernah engga kamu melihat tulisan-tulisan di tempat tertentu yang melarang transportasi online melewati wilayah tersebut?

Kehadiran jasa transportasi online yang sangat dekat dengan generasi milenial memang sangat memudahkan mereka untuk memesan kendaraan ataupun makanan. Tentu saja lebih nyaman dan murah. Selama ini kehadiran transportasi umum itu memang bisa dibilang sangat tidak nyaman. Sebut saja seperti kebiasaan angkutan umum yang suka ngetem, ojek konvensional yang memasang tarif semaunya, copet di bus, angkutan umum yang ugal-ugalan, taxi dengan argo mahal, dan banyak lagi.

Sekarang ini, seberapa sering sih kita melihat anak-anak milenial sambil mengenggam smartphone menunggu dijemput oleh driver transportasi online di depan mall dan tempat-tempat ngehits lainnya? Seberapa banyak dari kita yang saat ini bisa menghemat waktu dan uang dengan hadirnya transportasi online? Tentu saja, suka tidak suka, bisnis transportasi konvensional yang masih menerapkan kebiasaan lamanya ditinggal oleh generasi milenial. Salah siapa? Ya jelas, bukan salah kami.

2. Bisnis Mainan Fisik

Seperti yang diberitakan beberapa waktu yang lalu bahwa bisnis Toys R Us yang merupakan bisnis menjual mainan fisik mengalami penurunan pendapatan bahkan dikabarkan nyaris bangkrut. Hadirnya smartphone yang menawarkan berbagai macam apps di dalamnya membuat anak milenial lebih memilih mainan yang tersedia di apps gratis ataupun berbayar.

Selain praktis dan tidak perlu menyimpan mainan fisik, apps yang tersedia di smartphone bisa dibawa kemana saja dan kapan saja. Hal ini ikut mempengaruhi penurunan penjualan mainan fisik di Toys R Us dan beberapa tempat penjualan mainan lainnya.

3. Bisnis Retail

Bisnis retail jelas masih hangat. Banyak yang memberitakan bisnis retail ini sedang lesu gara-gara milenial. Ada juga yang mengaitkan bisnis retail ini lesu karena penjualan online yang menjamur. Kenyataannya bisnis online tidak sepenuhnya mempengaruhi penjualan bisnis retail lesu. Factor seperti terlalu banyak mall, kemacetan, harga terlalu mahal dibandingkan produk indie, juga ikut mempengaruhi kenapa bisnis retail itu lesu.

Milenial memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Trend sudah berubah, milenial lebih banyak menghabiskan uang dan waktunya untuk liburan keluar kota atau keluar negeri. Ada yang masih menyisihkan waktunya untuk ngemall, tapi uang yang dihamburkan bukan untuk pos beli baju atau barang, tapi nongkrong di tempat ngehits atau kedai kopi.

4. Bisnis Serbet dan Sapu Tangan

Ya bisnis serbet. Milenial lebih senang menggunakan tissue untuk membersihkan makanan atau kotoran lainnya. Seberapa sering sih kita masih melihat ketersediaan serbet di restoran atau pun tempat makan lainnya. Restoran atau tempat makan lainnya lebih banyak menyediakan tissue karena lebih praktis dan bisa langsung dibuang, meskipun penggunaan tissue tidak ramah lingkungan.

Tidak hanya serbet, sapu tangan pun mengalami penurunan penjualan. Masih suka lihat orang melap keringatnya dengan sapu tangan? Sudah jarang ya, padahal dengan menggunakan sapu tangan tentu saja lebih praktis daripada menggunakan tissue yang suka makan tempat lebih banyak di saku celana ataupun tas jinjing wanita.

5. Bisnis Property

Siapa yang peduli dengan property? Menjamurnya iklan Meikarta tak membuat milenial tertarik untuk menginvestasikan uangnya untuk membeli property yang setiap tahunnya harganya makin tak terjangkau. Milenial lebih memilih untuk menyewa apartemen ataupun mengontrak rumah dibandingkan harus membeli rumah di Meikarta dan tempat lainnya.

Milenial nyaris tidak mencadangkan uangnya untuk berinvestasi di property. Mereka lebih senang menginvestasikan uangnya untuk hal-hal yang menyenangkan dan mewujudkan impiannya untuk menjadi penjelajah dunia.

Seretnya bisnis property juga ikut mempengaruhi bisnis KPR yang lesu karena milenial lebih setuju mengalokasikan uangnya untuk menyicil gadget terbaru dibandingkan harus datang ke bank untuk mengajukan KPR.

6. Bisnis Asuransi

Sama halnya dengan property. Bisnis asuransi pun mengalami kemerosotan. Kenapa? Ya, siapa yang peduli dengan asuransi? Masih ada anggapan seperti “kenapa sih kita harus curiga lebih awal kalau nanti kita bakal sakit parah terus dicover sama asuransi? Itu kan engga baik.” Atau “gue engga dapat manfaat apa-apa dari asuransi, toh gue masih sehat kok.” Ya, itu sih anggapan yang saya dengar dari teman-teman milenial.

Kesadaran berasuransi tidak menjadi tujuan milenial mencadangkan uang mereka untuk asuransi. Selain karena sudah tercover oleh asuransi dari kantor tempat mereka bekerja, mengasuransikan uang mereka untuk asuransi jiwa dan kesehatan pribadi bukan hal yang keren alias tidak instragam-able.

7. Bisnis Hotel

Travelling dan kuliner yang menjadi pos pengeluaran terbesar milenial tak sepenuhnya memberi dampak pada bisnis perhotelan di tempat-tempat wisata. Trend menyewa di rumah warga pada destinasi tujuan mereka selain lebih murah, mereka juga mendapat pengalaman berinteraksi dengan warga setempat dan lingkungan tempat mereka tinggal. “Feels like home”, begitu kata mereka.

8. Bisnis Minuman Bir

Trend gaya hidup sehat memang menjadi idola kaum milenial, hal-hal yang berbau tidak sehat, sedikit demi sedikit sudah ditinggalkan. Image bir yang haram dan bikin mabuk tidak digemari oleh kaum milenial, meskipun menurut saya kalau tidak berlebihan ya tidak akan mabuk. Tapi yang paling ditakutkan dari milenial sebetulnya dari minum bir ini adalah perut yang membuncit. Ya, penggemar hardcore gaya hidup sehat sudah pasti menolak bir untuk memenuhi keinginan yang hakiki memiliki perut kotak-kotak dan ramping.

BACA JUGA


Mengapa Kids Zaman Now Dituding Jadi Penyebab Industri Ritel Lesu? Ini Dia 5 Faktor yang Membuat Industri Ritel Lesu!

Mengapa Kids Zaman Now Dituding Jadi Penyebab Industri Ritel Lesu? Ini Dia 5 Faktor yang Membuat Industri Ritel Lesu!

Kids zaman now belakangan dituding sebagai penyebab daya beli konsumen turun yang membuat industri ritel nasional mengalami "demam

Read more..

Milenial saat ini sangat berpengaruh, keinginan mereka untuk “rule the world” mungkin ada benarnya. Para pelaku bisnis harus benar-benar jeli dan inovatif dalam mengikuti trend yang digemari milenial, jika tidak, tentu saja akan tergeser oleh perusaahan baru yang dapat memenuhi selera milenial.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Generasi Milenial Tak Selamanya Jadi Target Market Menguntungkan. Ini 8 Bisnis yang Lesu Akibat Generasi Milenial!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !