Konon kata orang, manusia hidup dalam musim-musim yang berbeda. Sadar gak kalo manusia yang hidup dalam musim-musim yang berbeda itu, mulai dari bayi lahir hingga tutup usia, membutuhkan uang.

Tahapan Pertama : Fase Menjadi Anak-Anak

Ketika kita lahir dan masih anak-anak, kita mengandalkan orang tua kita untuk mengasuh kita,membiayai kebutuhan dan membesarkan kita, ini disebut tahap dependent.

Tahapan Kedua : Fase Menjadi Remaja

Kemudian kita masuk ke tahap independent dimana kita mengetahui jati diri kita dan kita mulai tidak bergantung hidup pada orang lain lagi, kita sudah bisa mencari nafkah sendiri dan menghidupi diri kita sendiri. Pada usia remaja, kita sudah mengenal yang namanya tabungan dan mulai memiliki pengeluaran. Kita mulai menabung untuk membeli peralatan elektronik, baju, kamera dan lainnya. Mayoritas barang yang dibeli adalah barang konsumtif. Beberapa dari anak remaja mungkin juga sudah memiliki kartu kredit, dari sini kita mengenal yang namanya utang.

Tahapan Ketiga : Fase Menikah

Setelah itu barulah masuk ke fase terakhir yaitu interdependent dimana kedua orang yang masing-masing independent bertemu dan memutuskan untuk menikah dan saling bergantung satu sama lain. Saat menikah bisa jadi kita masih mencapai titik nol dalam mengelola keuangan. Setelah beberapa tahun umumnya pendapatan semakin meningkat. Peningkatan pendapatan juga diikuti pula dengan adanya peningkatan gaya hidup.

Konsep Financial Planning, Sandwich, dan Siasat untuk Menikmati Hidup

Pada hari Sabtu tanggal 27 Februari lalu, saya hadir di acara yang diselenggarakan oleh Level Up Indonesia, sebuah acara yang menurut saya jika dilihat dari judulnya, ‘financial planning’, saya pikir sudah cukup saya mengerti tentang hal ini. Karena di acara serupa, saya sudah belajar dan paham betul konsep passive income, investasi yang harus saya gencar lakukan sedini mungkin selama masih muda.

Namun ada satu konsep yang cukup membuka mata saya yaitu ternyata di dalam finance juga ada tingkatan fase musim kehidupan seseorang. Pada fase kita masih lajang, kita mencari uang dan kita menghabiskannya sesuka hati kita tanpa beban dan tidak ada orang yang melarang. Di fase ini, diibaratkan sandwich, isinya masih penuh dengan daging dan keju yang banyak. Bayangan saya ini ibaratnya kayak Double Cheese Burger atau Big Mac.

Memasuki fase pernikahan, ini adalah fase tersulit dikarenakan urusan spending tidak lagi menyangkut kedua belah pihak yang menikah, namun juga pihak yang menjadi tanggungan mereka yaitu anak-anak yang perlu dibiayai sandang, pangan dan papannya. Belum lagi orang tua dan mertua yang juga akan mengandalkan anak mereka untuk memenuhi kebutuhan keuangannya. Ibarat sandwich, di fase ini sudah tidak bisa muat banyak daging dan keju lagi, mungkin saya pikir cuman cukup satu daging, mentimun dan beberapa black olive saja.

Married couple akan memiliki banyak pertimbangan mengenai spending habit mereka. Pastilah anak-anak mereka akan lebih dulu diproritaskan dan juga orang tua atau mertua mereka yang butuh pengeluaran di hari tua.

Tentunya di fase ini sangat berbeda dengan fase sekarang saya ini dimana saya masih lajang. Ini mengingatkan saya untuk tidak hanya berfoya-foya dan membelanjakan uang yang saya miliki saat ini.

Saya belajar sesuatu bahwa jika nanti saya ingin menikah, saya perlu mempersiapkan diri saya sedimikian rupa untuk menyiasati agar di fase itu, sandwich saya tetap muat daging dan keju yang banyak. Sehingga saya juga bisa menikmatinya.

Nikah kan juga harus enjoy, pikirku. (STE)


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Financial Planning, Sandwich, dan Siasat untuk Menikmati Hidup". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !