Generasi millennial, pada umumnya, ternyata bukan peminum bir. Bahkan konsumsi generasi millennial yang sangat rendah telah menurunkan angka penjualan bir. Akhir Juli lalu, sebagaimana dilansir CNBC, Goldman Sachs menurunkan rating dua perusahaan bir terkenal di Amerika Serikat, Boston Beer Company dan Constellation Brand.

Boston Beer Company turun statusnya dari “neutral” ke “sell” sedangkan Constellation Brand dari “buy” ke “neutral. Itu semua diakibatkan oleh penurunan sebanyak satu persen pada penetrasi penjualan bir di pasar AS dari periode tahun 2016 sampai 2017. Goldman Sachs bahkan memperkirakan penurunan 0.7% di tahun 2017.

Riset Goldman Sachs ini melengkapi temuan The International Wine and Spirits Record (IWSR) pada awal Juni lalu. Sebagaimana dilansir BBC, IWRS menemukan kontraksi 1,3%pada pasar globar bir tahun 2016 lalu. Hal itu disebabkan penurunan angka penjualan bir sebanyak 1.8%

Menurut Business Insider, UBS pada Agustus ini merilis riset tahunannya terhadap kurang lebih 1200 konsumen bir. Salah satu fokus penelitian tersebut adalah bagaimana pandangan generasi millennial terhadap bir.

Riset UBS menemukan bahwa anak millennial memang kurang suka mengkonsumsi bir dibanding generasi Baby Boomers dan Gen X. Hampir seluruh merek bir kurang laku pada generasi millennial. Kecuali merek Stella Artois, Dos Equis, dan Miller.

Kalau anak millennial nggak doyan bir, lalu mereka senangnya apa dong? Ternyata anak millennial lebih menyenangi wine dan hard liquor dibanding bir. Kedua jenis minuman tersebut telah mengambil 10% pangsa pasar bir sejak 2006 hingga 2016. UBS percaya tren tersebut akan terus berlanjut. Merek-merek besar kedua minuman tersebut akan mendapat tempat lebih daripada merek-merek besar bir.

Kenaikan konsumsi ganja juga turut menurunkan konsumsi bir. Sebagaimana dilansir CNBC, sejak 1980-1990an konsumsi bir dan ganja memang berbanding terbalik. Pada periode tersebut, bila konsumsi bir turun 22% maka konsumsi ganja naik 18%. Belum diketahui penjelasannya.

Sampai tahun 2015, peminum alkohol pada usia 18-25 tahun turun selama lima tahun berturut-turut. Sedangkan konsumsi ganja naik. Vivien Azer, analis spesialis makanan dari Cowen, meyakini penjualan bir akan mengalami tekanan sampai dekade berikutnya.

Prediksi Azer tersebut didasarkan pada data penelitian tentang pengaruh bir selama 80 tahun dan luasnya efek ganja selama 35 tahun di Amerika. Sejak 1980an, telah terjadi tiga kali siklus bergantian antara bir dan ganja. Azer menyebut, kita sedang memasuki siklus lainnya.

Sebenarnya, data di atas menarik penelitian lebih lanjut. Apa faktor penyebab generasi millennial lebih senang mengkonsumsi wine dibanding bir, misalnya? Adakah perubahan pendapatan yang mengakibatkan perubahan daya beli? Atau, apakah biaya produksi wine kini makin murah sehingga jumlah produksinya makin massal hingga makin terjangkau anak millennial?

Terakhir, data turunnya konsumsi bir pada generasi millennial di atas, umumnya, diteliti di luar Indonesia. Konsumsi bir pada megara mayoritas muslim seperti Indonesia dapat diduga tidak sebanyak di Amerika. Sehingga riset tersebut tidak bisa langsung diterapkan untuk melihat pola konsumsi di Indonesia. Menarik jika ada penelitian tentang perubahan pola konsumsi generasi millennial di Indonesia. Data penelitian itu dapat digunakan untuk membaca celah peluang bisnis sahabat Moola


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Millennial Sukses Bikin Bir Nggak Laku. Kok Bisa Begitu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !