Beberapa waktu yang lalu saya menghabiskan waktu dengan seorang teman dekat untuk bertanya-tanya bagaimana mereka mengelola keuangannya. Dita (26), Naya (24), dan Radit (32) berbagi cerita mereka di sini.

1. Bagaimana cara kalian mengelola uang?

Dita: "Hahahaha. Terima gaji aku bayar kos bulanan di Kebon Kacang yang engga jauh dari kantorku. Sisanya untuk kebutuhan hidupku, beli makeup, bayar cicilan handphone, dan lainnya. Dengan pengeluaran seperti itu aku enggak bisa nabung."

Naya: "Wah. Kalau aku lebih banyak habis untuk jajan di tempat-tempat ngehits. Sehari pengeluaranku untuk itu bisa 50-75 ribu bisa lebih juga, apalagi kalau weekend. Belum transport Uber, Grab, atau Gojek. Nabung sisa dari kebutuhanku itu."

Radit: "Gila enak banget hidup Naya. Kalau aku bayar cicilan rumah selama 10 tahun, tapi masih indent. Aku bayar kontribusi untuk listrik dan air karena masih tinggal satu rumah dengan orangtua. Sisanya ditabung dan cukup-cukupin deh buat hidup sebulan."

2. Ada rencana agar uang kalian berkembang?

Dita: "Sebetulnya dari kecil aku udah diajarin Mama untuk rajin menabung dan tidak beli barang-barang yang engga perlu. Tapi seiring berjalan waktu jadi pengen beli macam-macam yang dulu setiap kali minta Mama engga pernah dikasih. Alhasil waktu kuliah aku kerja part time di kedai kopi. Uang tambahan yang kudapat untuk beli barang-barang yang kusuka. Tapi semenjak kerja seperti sekarang belum kepikiran lagi untuk nambah uang."

Naya: "Aku sih punya rencana untuk bikin uangku berkembang tapi bukan berupa bisnis sih. Aku rajin ikutan beberapa kompetisi yang berhadiah uang, seperti lomba lari marathon, kompetisi design, bikin logo, atau kompetisi yang diadakan di kantor yang juga suka berhadiah uang atau voucher belanja. Paling gitu sih, tapi kalau disuruh investasi aku masih merasa belum aman. Uang yang kudapat untuk travel atau shopping pakaian."

Radit: "Untuk saat ini aku nyaris engga punya uang untuk investasi. Tapi caraku agar uangku bertambah aku menjadi penerjemah online bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Lumayan pendapatannya dari klien."

3. Pernah terpikir kalau sudah tua, bagaimana cara memproteksi diri kalian?

Dita: "Yah aku rasa suamiku nanti sudah menyiapkan itu. Belum kepikir mau ngapain, tapi kalau maksudmu apa yang ingin aku kerjakan biar tetap menghasilkan? Aku akan menyewakan kos atau kontrakkan." (tertawa kencang)

Naya: "Kepingin sih meskipun udah tua tapi tetap produktif. Aku sih mau engga mau nerusin bisnis Papi. Siapa lagi kalau bukan aku? Mungkin itu ya yang bisa kujadikan proteksi diriku di masa tua."

Radit: "Aku ada rencana untuk mulai investasikan uangku di reksadana dalam waktu dekat. Lumayan kan dari 100 ribu kalau tiap bulan konsisten bisa untuk dana pensiun. Sekarang aku udah mulai install apps untuk nge-track uangku kemana saja larinya. Nanti kalau cicilan rumah sudah lunas baru deh aku tambah lagi nilai investasi di reksadana, mungkin dari 100 ribu jadi 300 ribu atau 500 ribu sekalian."

4. Financial support apa sih yang kalian dapat dari orangtua?

photo credit: venueatdinkytown

Dita: "Untuk sekarang sih aku sama sekali engga ada financial support. Semenjak aku kerja, aku benar-benar engga ada financial support dari orangtua. Paling sekali-kali sih, dapat tiket gratis mudik ke Padang. Itu tahun 2013 lalu. Setelah itu sih engga ada apa-apa lagi."

Naya: "Kalau aku, tentu saja travel bareng keluarga tiap tahun. Kadang ke Eropa atau keliling Asia. Semua dana dari Papa, dapat liburan gratis tiap tahun 2 kali. Senang sih, jadi engga perlu nabung untuk travel keliling dunia. Papa juga nawarin aku untuk kuliah lagi ngambil S2, tapi aku pilih entar dulu. Pengennya aku sendiri yang biayain semua itu."

Radit: "Buat aku, financial support yang kudapat sama kayak Naya. Dana kuliah S2. Papa masih biayain kuliah S2-ku yang mahal banget. Dia bilang sih pendidikan itu penting, dan Papa ngerti kalau aku masih nyicil rumah, jadi engga mungkin aku bisa bayar kuliah untuk S2. Makanya dia nawarin aku untuk ambil S2 dengan dana yang sudah disiapkan. Rencananya kalau aku sudah lulus kuliah S2 dan selesai nyicil rumah, mau aku balikkin ke Papa uang itu. Anggap aja dana S2 sekarang ini, dana pinjaman."

5. Berapa dana sosial yang kalian siapkan?

Dita: "Dana sosial aku siapkan untuk undangan teman. Ya dana amal untuk teman yang sedang berduka kehilangan orang-orang tersayang."

Naya: "Aku sama kayak Dita."

Radit: "Ya, selain sama kayak Dita, aku suka berbagi dengan memberikan kontribusi untuk kegiatan sosial yang membutuhkan dana sendiri untuk makan dan transportasi. Jika di bulan itu tidak ada dana yang dikeluarkan, paling aku cari crowd funding yang sedang membutuhkan uang. Jika menarik, aku ikut menyumbangkan dana."

BACA JUGA


Biaya Pendidikan Anak Tak Sehoror Jumlahnya Jika Dipersiapkan Sedini Mungkin

Biaya Pendidikan Anak Tak Sehoror Jumlahnya Jika Dipersiapkan Sedini Mungkin

Asal tahu caranya, biaya pendidikan anak ternyata tak sehoror itu jumlahnya

Read more..

Nah, itulah sharing session saya bersama teman-teman tentang cara mereka mengelola keuangan. Bagaimana menurutmu, Sahabat Moola?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Trigger Membicarakan Uang dengan Teman Secara Blak-blakan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !