Dalam perjalanan keluar kota naik kendaraan umum beberapa waktu lalu, saya bersebelahan dengan seorang ibu muda yang sedang asyik utak-atik ponsel dan buku catatan di pangkuannya.

Saya amati, buku catatan itu tampak seperti buku catatan belanja dengan tulisan tangan dan angka-angka di sebelahnya. Saya pun iseng menyapa, “Lagi nyatat belanjaan, Bu?”

Ibu itu menoleh, lalu tersenyum. “Ini, Mbak. Saya lagi menghitung uang keluar masuk bisnis online shop saya.”

Saya yang terbalik, kaget plus takjub. Tambahnya lagi, “Liburan tapi bisnis tetap jalan, Mbak,” katanya terkekeh.

Lalu kisah perjuangannya membangun online shop pun mengalir dari bibirnya. Ternyata posisinya yang sudah tinggi di sebuah perusahaan otomotif tidak serta-merta membuatnya ongkang-ongkang kaki. Ia justru tidak mau hidup bergantung dari suami dan gaji saja, apalagi kedua anaknya menginjak usia remaja.

Bisnis sampingan online shop yang dijalaninya telah dimulai sejak lima tahun lalu, namun baru dua tahun belakangan menampakkan hasilnya. “Saya jatuh bangun, Mbak, bangun bisnis begini. Dulunya sempat jualan kecil-kecilan, tapi nggak langsung laku. Paling sebulan pendapatan saya dari bisnis online shop tiga ratus ribu.” Tapi buat saya sendiri sih angka segitu sudah lumayan :).

Produk yang dijualnya antara lain baju-baju impor Korea dan ladies handbag yang dipromosikan melalui media sosial Instagram. Dalam sebulan, hasil penjualannya bisa mencapai antara 5 hingga 9 juta rupiah. “Lumayan bisa buat nambah-nambah jajan anak-anak.”

Lalu bagaimana siasatnya supaya bisnis online shop tetap berjalan lancar? “Di kantor daripada bengong saya sambi juga jualan. Untungnya bos saya baik, Mbak. Yang penting kerjaan saya beres, dan nggak pakai fasilitas kantor,” jelasnya.

Kemudian, bagaimana ia bisa mendapat supplier untuk produk-produknya itu? “Saya suka blusukan ke toko-toko, Mbak, misalnya ke Tanah Abang. Terus dari kerjaan juga saya dapat banyak kenalan.”

Dari kisahnya, saya menyimpulkan ada lima prinsip menjalani bisnis sampingan online shop yang dijalani ibu paruh baya ini, dan bisa kamu tiru juga loh, Milenials!

1. Tidak cepat puas dengan hasil yang ada

Meskipun sudah menjabat posisi tinggi di perusahaan (dan pasti penghasilannya sudah lebih dari cukup), ibu ini tetap tidak berpuas diri. Apalagi ia punya dua anak remaja yang masih sekolah, sehingga pasti banyak kebutuhan tidak terduga.

2. Jeli melihat peluang pasar

Berhubung si ibu punya dua anak remaja yang hidup di kota besar, ia melihat bahwa minat pasar zaman sekarang yang didominasi generasi milenials gandrung sama produk-produk dari Korea. Sebelumnya ia sempat berjualan produk lainnya namun tidak terlalu laku karena tidak mengikuti perkembangan pasar.

3. Gunakan sosial media untuk berpromosi

Si Ibu banyak terbantu jualannya setelah memasang produk-produk dagangannya di Instagram. Akunnya bisa dilihat di @belibajuqu dan @belitaskuu.

4. Perbanyak kenalan dan perluas networking

Dari kenalannya, ia jadi tahu supplier yang bagus dan siap sedia meng-handle barang dagangannya. Selain itu, ibu yang supel ini juga rajin blusukan ke toko-toko untuk mencari supplier baru. Si ibu tinggal mengurus sosial media dan pencatatan keuangan saja.

5. Rajin mencatat pembukuan

bikin catatan pembukuan akan membantumu memantau cashflow bisnis online shop kamu. (foto: rightequation.ae)

Ini nih yang penting. Meskipun sudah punya asisten dan orang-orang yang membantu packing serta pengiriman di lapangan, sebaiknya tetap membuat catatan pemasukan dan pengeluaran dalam buku terpisah. Tidak harus detail seperti orang accounting, tapi yang penting kamu bisa melihat pada bulan apa kamu mendapat pemasukan tertinggi dan sebaliknya, sehingga kamu bisa menyiapkan strategi untuk penjualan bulan berikutnya. ***


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Prinsip Bisnis yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Merintis Online Shop". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !