Menjadi pemimpin yang baik bukanlah hal yang mudah. Namun, bukan berarti hal ini mustahil. Mungkin sekali setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang baik. Karena, pada dasarnya setiap manusia punya nurani yang menggerakkan kita pada segala bentuk kebaikan.

Namun sayang, seringkali kita justru lebih memilih untuk diperbudak oleh nafsu amarah saja. Ego yang terlalu tinggi sebagai pemimpin seringkali timbul. Padahal, seharusnya ini bisa diredam. Karena, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengerti bawahannya. Jika bawahannya lebih menganggap pemimpinnya sebagai bos yang nyebelin, berarti kemimpinan yang telah ia jalankan telah gagal. Untuk itu, kita perlu sekali menerapkan nilai prilaku yang membuat bawahan segan kita, bukan karena rasa takut, tapi karena rasa cinta.

1. Jangan asal perintah

Pertama tentu saja yang harus dikontrol oleh seorang pemimpin adalah nafsu untuk memerintah. Perintah seringkali dipahami oleh seorang pemimpin sebagai komando yang harus dilaksanakan dengan baik dan tak boleh diganggu gugat. Padahal, inti dari sebuah kepemimpinan bukan disitu. Tapi dari kemampuannya mengarahkan bawahan. Jadi pemimpin itu harus bisa mengarahkan, bukan melulu asal perintah.

2. Berusaha mengerti bawahan


Setiap orang tentu selalu ingin dimengerti. Namun, jarang sekali ada yang mau mengerti orang lain. Stephen Covey, seorang pembicara terkenal Amerika, pernah memberi petuah dalam buku Seven Habits-nya. Katanya, untuk mendapatkan sebuah hasil maksimal, kita harus mengerti dulu, sebelum ingin dimengerti.

3. Jangan sungkan untuk berdiskusi

Pemimpin tak boleh kaku dan menutup ruang diskusi. Seorang pemimpin harus demokratis dengan membuka ruang diskusi dengan para bawahannya. Tentu saja, pemimpin yang baik juga harus memiliki pikiran terbuka agar mau menerima pendapat dari bawahannya demi kebaikan organisasi.

4. Mentraktir mereka itu perlu

Selain beberapa strategi di atas, pemimpin yang baik juga bisa hadir dalam hal yang lebih praktis. Misalnya, mengajak bawahan makan bersama dan mentraktir mereka. Cara seperti ini bisa memunculkan kedekatan afeksi antara seorang pemimpin dan bawahannya.

5. Ramah, jangan terlalu menunjukkan kewibawaan

Menjaga wibawa itu perlu. Tetapi itu bukan berarti menghilangkan sikap ramah. Kebanyakan pemimpin kelewat berlebihan menjaga wibawanya, sehingga yang nampak justru kesan angker. Bukan kesan ramah yang disegani.

Berikut tadi adalah beberapa tips efektif untuk menjadi pemimpin yang baik. Bukan malah menjadi bos yang nyebelin. Yuk, mari kita praktekkan Sahabat Moola!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Cara Agar Kamu Tidak Dianggap Sebagai Bos Nyebelin". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !